Profil Mirah Adi

I. LATAR BELAKANG

KELEMBAGAAN

Kedudukan Balai Sosial Karya Wanita (BSKW) “Mirah Adi” Mataram adalah Unit Pelaksana Teknis Daerah  (UPTD) dari Dinas Sosial Kependudukan dan Catatan Sipil Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Balai Sosial Karya Wanita (BSKW) “Mirah Adi” Mataram,  sesuai dengan Peraturan Gubernur NTB Nomor 32 Tahun 2016 dan Nomor  23 Tahun 2008, mempunyai tugas dan fungsi melaksanakan pelayanan dan rehabilitasi sosial bagi penyandang masalah kesejahteraan sosial ; Wanita Tuna Susila (WTS), Wanita Rawan Tindak Asusila (WRTA), Wanita Korban Tindak Kekerasan (WKTK), Wanita Korban Traffiking dan Orang dengan HIV/AIDS

IDENTITAS KELEMBAGAAN

  1. N a m a

Balai Sosial Karya Wanita (BSKW) “Mirah Adi”

  1. A l a m a t
  • Jalan                              : Gora no. 77 Selagalas – Cakranegara            
  • Nomor Telepon : (0370)  637051
  • Kelurahan : Selagalas
  • Kecamatan                : Sandubaya
  • Kabupaten/Kota : Mataram
    1. Kapasitas
  • Kapasitas : 40 orang (perempuan)

 

SEJARAH BERDIRINYA LEMBAGA

    1. Berdiri pada tanggal 1 April 1982, dengan nama Sasana Rehabilitasi Wanita (SRW) “Budi Rini” Mataram dengan SK Mensos RI No. 91/HUK/Kep/IX/1982;
    2. Tanggal, 17 Agustus 1979, mengalami perubahan nama menjadi Sasana Penyantunan Anak Harapan Mataram dengan (SK MENSOS RI No. 14/HUK/1994);
    3. Tanggal, 1 April 1994, mengalami perubahan nama menjadi Panti Sosial Karya Wanita (PSKW) “Budi Rini” Mataram dengan SK Mensos RI No 14/HUK/1994;
    4. Tahun 2001, menjadi UPTD Dinas Kesejahteraan Sosial dan Pemberdayanan Perempuan Provinsi Nusa Tenggara Barat (PERDA N0. 13 Tahun 2001 dan SK GUBERNUR NTB No. 203 Tahun 2001).
    5. PERGUB No. 23 Tahun 2008, dengan sasaran Rehabilitasi dan Pelayanan Sosial terhadap;  Wanita Tuna Susila, wanita rawan tindak asusila, korban tindak kekerasan, trafificking dan orang dengan HIV/AIDS (ODHA).
    6. Pergub No 35 Tahun 2016, menjadi Balai Sosial Karya Wanita “Mirah Adi.

 

MOTTO:

“Perempuan berdaya, masa depan NTB maju” 

VISI :

“Terwujudnya kualitas SDM dan pemberdayaan penyandang masalah kesejahteraan sosial kearah kehidupan normative”

MISI :

  1. Meningkatkan manajemen pelayanan dan rehabilitasi terhadap penyandang masalah kesejahteraan sosial;
  2. Meningkatkan tanggungjawab sosial dan pemberdayaan potensi serta  sumber kesejahteraan sosial bagi kelayan melalui bimbingan fisik, bimbingan sosial, bimbingan mental dan bimbingan keterampilan;
  3. Mencegah , mengendalikan dan mengatasi masalah Wanita Tuna Susila, Wanita Rawan Tindak Asusila, Korban Tindak Kekerasan, Traffiking dan wanita korban HIV/AIDS  (ODHA);
  4. Meningkatkan profesionalisme manajemen pelayanan dan rehabilitasi  kesejahteraan sosial serta sumber daya manusia petugas panti;
  5. Meningkatkan sarana dan prasarana sesuai dengan jenis kebutuhan panti.

 

II. MANAJEMEN PELAYANAN

A. STRUKTUR ORGANISASI

Struktur Organisasi Balai Sosial Karya Wanita (BSKW) “Mirah Adi”

  1. Kepala Balai Sosial Karya Wanita (BSKW) “Mirah Adi”
  2. Kasubag Tata Usaha
  3. Kepala Seksi Penyantunan dan Perlindungan
  4. Kepala Seksi Bimbingan Sosial dan Advokasi
  5. Kelompok Jabatan Fungsional

 

 

 SUMBER DAYA MANUSIA

Sumber Daya Manusia BSKW  “Mirah Adi Mataram

Sumber Daya Manusia yang mendukung pelaksanaan program pelayanan dan rehabilitasi di BSKW “Mirah Adi” Mataram berjumlah 24 orang dengan rincian sebagai berikut:

  • Menurut Status kepegawaian
    1. Pegawai Negeri Sipil                : 22 orang
    2. PTT                : 2 orang
  • Menurut Pendidikan
  1. Magister/ S2                : 1 orang
  2. Sarjana/ S1

(1) STKS Bandung                                : 3 orang

(2) Psikolog                                            : – orang

(3) Sarjana lainnya                               : 6 orang

  1. Diploma 3/D3 AKPER                :  3 orang
  2. SLTA/Sederajat

(1) SMKK                                                 :   1 orang

(2) SLTA                                                  :   11 orang

(3) SPK                                                     :   2 orang

  1. SD/ Sederajat                               :   1 orang

3)   Menurut Jabatan

  1. a) Kepala Balai :  1 orang
  2. b) Kepala Sub Bagian Tata Usaha : 1 orang
  3. c) Kepala Seksi Bimbingan Sosial dan Advokasi :  1 orang
  4. d) Kepala Seksi Penyantunan dan Perlindungan :  1 orang
  5. e) Fungsional Pekerja Sosial Madya Jenjang Ahli : 1 orang
  6. f) Fungsional Pekerja Sosial Penyelia Jenjang Trampil :  2 orang
  7. g) Perawat                               :  2 orang
  8. h) Staf Sub Bagian Tata Usaha :  8 orang
  9. i) Staf Seksi Bimbingan Sosial dan Avokasi                               :  3 orang
  10. j) Staf Seksi Penyantunan dan Peerlindungan :  2 orang
  11. k) PTT : 2 orang

SARANA DAN PRASARANA

    1. Sarana
      1. Luas Tanah                                                             : 6400 m2  (0,64 are)
    2. Bangunan
  1. Gedung Kantor 1 unit                               : 60 m2 / tahun 1990
  2. Gedung Ruang Peksos                                        : 90 m2 / tahun 1991
  3. Gedung Asrama                                              : 3 Lokal
  4. Makan/Dapur unit                                           : 170 M2
  5. Gedung Ketrampilan                : 120 m2 / tahun 1990
  6. Gedung bimbingan sosial : 110 m2
  7. Gedung dapur : 100 m2 / tahun 1992
  8. Gedung aula : 180 m2 / tahun 1991
  9. Gedung musholla : 50 m2 / tahun 1992
  10. Gedung rumah dinas gol ll type D : 3 buah / masing-masing 36 m2

 

III. PROGRAM PELAYANAN

SASARAN PROGRAM PELAYANAN

  1. Wanita Tuna Susila (WTS)
  2. Wanita Rawan Tindak Asusila (WRTA)
  3. Wanita Korban Tindak Kekerasan (WKTK)
  4. Wanita Korban Trafficking (WKTK)
  5. Wanita Korban ODHA HIV-AIDS

KUALIFIKASI

Hasil razia dari Polisi, Satpol PP, Aparat Desa/Kelurahan, dengan ketentuan/syarat sbb :

  • Berita Acara Penyerahan (BAP) dari Instansi yg menyerahkan
  • Lama pembinaan adalah 3 bulan
  • Tidak memiliki hak untuk memperoleh paket stimulant dari keterampilan yang diikuti.
    1. Wanita rawan tindak asusila yang dengan sukarela mendaftarkan dirinya untuk mendapatkan bimbingan di panti, dengan ketentuan/syarat sbb :
  • Dapat mendaftarkan diri atau didaftarkan oleh aparat (Lingkungan, Keluarahan/ Desa,  Kecamatan, Keluarga dan Masyarakat/ Orsos (TKSK),  setelah memperoleh sosialisasi program Panti oleh petugas dari Panti.
  • Mendapatkan bimbingan di Panti selama 6 bulan
  • Diberikan hak untuk izin pulang sekali dalam seminggu atau sesuai dengan kesepakatan bersama.
  • Memiliki hak memperoleh paket stimulan sesuai dengan salah satu keterampilannya.
  1. Diperbolehkan mengikuti lebih dari satu jenis keterampilan sepanjang mampu mengikutinya.

Kelayan Wanita Korban Tindak Kekerasan adalah :

  • Korban pemukulan dan tindakan kekerasan lain, baik oleh individu maupun kelompok
  • Korban perkosaan diakibatkan oleh sebab-sebab tertentu seperti perilaku korban dan sebagainya.

Ketentuan dan syarat sebagai berikut:

  • Dapat diterima tanpa kelengkapan Berita Acara Pemeriksaan (BAP)
  • Dilengkapi Berita Acara Penyerahan dari orang tua atau instansi/Lembaga yang menyerahkan/merujuk.
  • Berhak mendapatkan pelayanan yang ada di panti selama 6 bulan dan atau sampai kelayan selesai melahirkan.
  • Berhak mendapatkan perlindungan, baik perlindungan hukum maupun sosial.
  • Dapat diterima tanpa kelengkapan Berita Acara Pemeriksaan (BAP)
  • Dilengkapi Berita Acara Penyerahan dari orang tua atau instansi/Lembaga yang menyerahkan/merujuk.
  • Berhak mendapatkan pelayanan yang ada di panti selama 6 bulan dan atau sampai kelayan selesai melahirkan.
  • Berhak mendapatkan perlindungan, baik perlindungan hukum maupun sosial.
  • Wanita korban tindak kekerasan dapat dibina dan dilindungi di panti sampai permasalahannya diselesaikan secara hukum
  • Wanita korban tindak kekerasan tersebut tidak terikat harus mengikuti bimbingan keterampilan yang dilaksanakan di panti.
  • Dalam proses kunjungan, korban tindak kekerasan wajib mendapatkan pendampingan baik oleh petugas panti maupun aparat keamanan guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
  • Apabila dilaksanakan persidangan yang mengakibatkan korban, petugas panti bersama aparat yang ditunjuk wajib mendampingi sampai proses persidangan selesai.
  • Korban traffiking akan mengalami berbagai gangguan sebagai kibat dari kejadian antara lain :
  1. Terkena infeksi menular seksual (IMS, HIV/AIDS)
  2. Korban akan mengalami stress, trauma, depresi sampai gangguan kejiwaan (psikotik) yang menghambat perkembangan kepribadiannya.
  3. Korban mengalami hambatan komunikasi dan iteraksi sosial, baik dalam keluarga maupun dengan lingkungan sosial lainnya.
  4. Korban cenderung menarik diri dari masyarakat dan lingkungannya.
  5. Korban mengalami situasi kehilangan kepercayaan diri dan harga diri akibat eksploitasi seksual.

Ketentuan dan syarat sebagai berikut:

  • Wanita korban traffiking diserahkan oleh aparat kepolisian dilengkapi dengan Berita Acara Pemeriksaan (BAP)sebagai hasil investigasi dari kasus yang didalaminya.
  • Hasil investigasi tersebut dijadikan sebagai bagi pola pembinaan dan perlindungan yang akan diberikan
  • Korban traffiking akan mendapatkan berupa pemeriksaan fisik dan kejiwaan oleh tim medis yang sudah ditunjuk.
  • Korban traffiking tersebut diberikan rehabilitasi sosial dan reintegrasi sosial.
  • Korban traffiking berhak mendapatkan perlindungan sosial dan perlindungan hukum
  • Korban traffiking akan dibina dan dilindungi di panti sampai proses hukung selesai dilaksanakan.
  • Korban traffiking, tidak diperkenankan menerima kunjungan kecuali orang tua dan keluarga terdekat.

Wanita korban HIV/AIDS adalah seorang perempuan yang sudah dinyatakan positif mengidap penyakit HIV/AIDS, yang memerlukan bimbingan mental agar mampu menjalani hidup secara wajar dan kuat menghadapi kenyataan yang ada pada dirinya.

 

TARGET

        Target sasaran pelayanan adalah dapat mengentaskan kasus atau masalah yang dialami oleh 80  (delapan puluh) orang penyandang masalah per-tahun yang dirujuk oleh Pemerintah terkait, masyarakat, LSM dan klien sendiri yang datang ke Balai yang berasal dari kabupaten/kota se-Provinsi Nusa Tenggara Barat serta luar Provinsi NTB, antara lain :

  1. Terpenuhinya hak-hak dasar perempuan, sebanyak 80 orang dalam setahunnya;
  2. Terlindunginya dan terpenuhinya kepastian hukum bagi 10 orang perempuan yang mengalami tindak kekerasan dan Trafficking;
  3. Terdeteksinya 1 orang klien yang mengidap HIV/AIDS dan 4 orang yang mengalami IMS dan penyakit lainnya;
  4. Terehabilitasi dan berdayanya 35 orang yang mengalami masalah WTS dan Rawan Tindak Asusila.

 

PENDEKATAN PROGRAM PELAYANAN

    1. Model Pendekatan Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial
  1. Model pelayanan dan rehabilitasi medis;
  2. Model pelayanan dan rehabilitasi sosial dengan pendekatan bimbingan sosial, individu dan kelompok;
  3. Model pelayanan dan rehabilitasi sosial dengan pendekatan therapy community;
  4. Model pelayanan dan rehabilitasi sosial dengan pendekatan keagamaan;
  5. Model pelayanan dan rehabilitasi sosial dengan pendekatan terpadu;
  6. Model pelayanan dan rehabilitasi sosial dengan pendekatan penempatan kelayan dalam asrama melalui pendampingan dan bimbingan oleh Pekerja Sosial;
  7. Pendekatan pelayanan dan rehabilitasi dengan pendekatan metode pekerjaan sosial (bimbingan sosial individu dan bimbingan sosial kelompok serta metode bantu).
    1. Metode Pendekatan Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial

Model pendekatan pelayanan perlindungan khusus direncanakan menggunakan metode integrasi antar profesi / Sumber daya manusia:

  1. Pendekatan ilmu pekerjaan sosial oleh pekerja sosial

Pekerja sosial merupakan tenaga profesional yang menguasai ilmu pekerjaan sosial (social work). Yaitu ilmu yang pemahamannya bagaimana usaha-usaha untuk menolong individu melalui pendekatan sosial individu dan menolong kelompok melalui pendekatan sosial kelompok, secara profesional dalam rangka meningkatkan kemampuan berfungsi sosial. Adapun pekerja sosial yang terlibat adalah pekerja sosial Fungsional (PNS) dan profesi yang berlatar belakang profesi ilmu pekerjaan sosial.

  1. Pendekatan Managemen Kasus

Suatu proses pengelolaan tindakan penanganan kasus klien yang meliputi asesmen, perencanaan, pelaksanaan pelayanan dan rujukan, serta pemantau/monitoring dan evaluasi untuk menangani masalah secara sistematis dengan berkoordinasi dan melibatkan sumber-sumber yang dibutuhkan.

  1. Pendekatan ilmu psikologi/psikiater

Pendekatan ini lebih menekankan pada metode penyembuhan mental psikologis anak yang mengalami tekanan atau trauma, metode pendekatan ini adalah dengan melibatkan  Psikolog/Psikiater pada instansi tertentu.

  1. Pendekatan Holistik (Agama)

Pendekatan holistik adalah upaya pendekatan melalui terapi keagamaan (spiritual therapy). Metode pendekatan ini adalah dengan melibatkan Tokoh lintas Agama.

  1. Pendekatan Hukum (Advokasi Hukum)

Pendekatan  ini adalah usaha untuk memberikan advokasi hukum terhadap klien yang mengalami masalah dengan hukum dengan melibatkan mitra kerja.

  1. Pendekatan Medis

Pendekatan Medis diperlukan apabila terdapat korban mengalami masalah kesehatan fisik, disamping penerapan petugas medis di Balai Sosial Karya Wanita ”Mirah Adi”  serta melibatkan mitra kerja instansi terkait.(Puskermas Karang Taliwang, RSJ Melati Sukma dan RSU Provinsi NTB

 

IV. FUNGSI DAN PRINSIP PELAYANAN

TUJUAN

  1. Membantu memecahkan permasalahan sosial di masyarakat;
  2. Dapat melakukan pencegahan, pemberdayaan dan melindungi anggota masyarakat yang rentan dan rawan terjerumus dalam kategori masalah; wanita tuna susila, wanita rawan tindak asusila, wanita korban tindak kekerasan, wanita korban trafficking dan wanita korban orang dengan HIV/AIDS.
  3. Untuk menjawab meningkatnya kasus korban tindak kekerasan terhadap perempuan, pernikahan usia muda/dini, trafficking dan rawan tindak asusila.

FUNGSI

  1. Sebagai pusat pemberdayaan dan perlindungan khusus bagi perempuan
  2. Sebagai pusat kajian preventif masalah, rehabilitasi dan pemberdayaan perempuan yang mengalami masalah; rawan tindak asusila dan wanita tuna susila;
  3. Sebagai pusat kegiatan bimbingan dan pelatihan kesejahteraan sosial profesi pekerjaan sosial;
  4. Sebagai pusat penerapan model pendekatan bimbingan iman taqwa dan teknologi (IMTEK);
  5. Sebagai pusat data dan informasi kesejahteraan sosial;
  6. Sebagai laboratorium penelitian dan pengembagan usaha ekonomis produktif.

SISTEM PELAYANAN

Rehabilitasi dan pelayanan  dilaksanakan dengan sistem pelayanan meliputi :

  1. Sistem Perlindungan khusus melalui Rumah Perlindungan dan Trauma Center
  2. Pendekatan Pelayanan, Rehabilitasi Sosial dan pemberdayaan perempuan

KRITERIA PENERIMA PELAYANAN DAN REHABILITASI

  1. Warga Negara Indonesia penyandang masalah; Wanita Tuna Susila, Wanita Rawan Tindak Asusila, Korban Tindak Kekerasan, Trafficking dan orang dengan HIV/AIDS (ODHA)
  2. Usia 16 s/d 40 Tahun
  3. Sehat jasmani rohani khusus bagi Wanita Rawan Tindak Asusila
  4. Bersedia di Asramakan selama mengikuti program Rehabilitasi
  5. Wajib mematuhi tata tertib yang berlaku di dalam Panti
  6. Wajib mengikuti kegiatan rehabilitasi sosial di dalam dan diluar Panti sesuai dengan kontrak pelayanan.

PROSES TAHAPAN PELAYANAN DAN REHABILITASI

Tahapan pelayanan dan Rehabilitasi :

  1. Tahap Sosialisasi Program Pelayanan

Memberikan informasi program pelayanan kesejahteraan sosial Balai Sosial Karya Wanita (BSKW) “Mirah Adi” Mataram kepada masyarakat luas atau calon penerima pelayanan

  1. Tahap Pendekatan Awal

Pendekatan awal merupakan tahapan pertama untuk menemukan kesesuaian antara kebutuhan kelayan dan keluarganya terhadap program pelayanan yang tersedia di komunitas ataupun di Lembaga Kesejahteraan Sosial.

  1. Tahap Penerimaan & Registrasi

Dalam Proses ini dilakukan kegiatan administrasi untuk menetapkan apakah calon klien memenuhi persyaratan yang ditetapkan panti social berdasarkan data objektif meliputi : Idenntifikasi (sejarah perkembangan klien), asesmen kebutuhan klien dan Registrasi (pencatatan kelayan yang difinitif  dalam buku register).

  1. Tahap Orientasi

Kegiatan  ini bertujuan memperkenalkan Balai sebagai lembaga yang memberikan pelayanan dan Rehabilitasi bagi klien meliputi status struktur organisasi, Tata Kerja, Personil, Program Pendidikan, Sarana dan Prasarana dan Tugas-tugas Pokok Bidang-Bidang dan Bagian-bagian yang ada di lingkungan panti dan luar panti.

  1. Tahap Penempatan
  • Penempatan kelayan pada asrama sesuai dengan kluster masalahnya
  • Penempatan kelayan pada program pelayanan sesuai dengan minat dan bakatnya masing-masing, (penempatan pada jurusan bimbingan ketrampilan)
  1. Tahap Pengungkapan & Pemahaman Masalah (assessment)

Melakukan assessment terhadap masalah klien yaitu; merumuskan pernyataan rujukan, mengidentifikasi riwayat masa lalu (social history) klien, sifat/karakteristik dan mengidentifikasi keberfungsian klien.

  1. Tahap Rencana intervensi

Membuat Rencana Intervensi (Plan of Action) yaitu yang berhubungan dengan kebutuhan pemecahan masalah, tujuan, alternative dan kontrak intervensi.

  1. Melaksanakan Rencana Intervensi

Pekerja social melaksanakan program kegiatan pemecahan masalah

  1. Tahap Resosialisasi/Reintegrasi Sosial

Menyiapkan kondisi fisik klien yang akan segera kembali kepada keluarga .dan masyarakat untuk dapat menerima klien kembali

  1. Pembinaan Lanjut

Memonitor tentang perkembangan kelayan setelah disalurkan

  1. Evaluasi

Mengetahui tingkat keberhasilan, faktor pendukung atau penghambat program pelayanan dan rehabilitasi

  1. Terminasi

Pemutusan kontrak pelayanan apabila kelayan sudah mampu melaksanakan fungsi sosialnya secara wajar

 

KEGIATAN PELAYANAN DAN REHABILITASI

Pelayanan Kebutuhan Sosial Dasar

  • Penyediaan tempat tinggal selama proses pelayanan
  • Pemberian makan 3 kali sehari
  • Penyediaan pakaian dan perawatan diri
  • Bantuan pengobatan dan perawatan kesehatan
  • Rekreasional didalam Balai dan luar balai

Pelayanan Pendampingan psikososial

Penempatan klien dalam asrama didampingi oleh pengasuh asrama dan dibimbing oleh Pekerja Sosial

Pelayanan Bimbingan

  • Bimbingan Keterampilan

Bimbingan Keterampilan Tata Boga, Bimbingan Tata Rias dan Bimbingan Tata Busana

  • Bimbingan Sosial Dasar (Social Basic Guidance)

Bimbingan relasi, komunikasi, empaty, interaksi sosial, dinamika kelompok dan temu kelayan

  • Bimbingan Fisik (Phyisically Guidance)

Bimbingan olah raga, pemeriksaan kesehatan, penimbangan berat badan, permakanan.

  • Bimbingan Belajar / Pengentasan Buta Aksara bagi kelayan buta huruf (Education Guidance)
  • Bimbingan Mental Spiritual (Mentally Guidance)

Bimbingan Baca Al-Qur’an, tata sholat dan budi pekerti.

  • Bimbingan Kepribadian (Atitude Guidance)

Pengenalan konsep diri, etika pergaulan, nilai kesetiakawanan.

  • Bimbingan Bakat Kreatifitas (Talent and Creativity)

Bimbingan Seni Drama, puisi, tari, kasidah dan musik/vokal

  • Pelayanan Khusus
  • Konseling kelayan dan keluarga
  • Melakukan pencatatan dan pelaporan kegiatan individu dan kelompok
  • Menyelenggarakan pembahasan kasus (Case Conference)

V. PENUTUP

Balai Sosial Karya Wanita (BSKW) “Mirah Adi”, merupakan lembaga pelayanan dan rehabilitasi sosial bagi  penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) Wanita Tuna Susila (WTS), Wanita Rawan Tindak Asusila (WRTA), Wanita Korban Tindak Kekerasan (WKTK),  Wanita Korban Trafficking (WKT) dan orang dengan HIV/AIDS (ODHA) melalui sistim pelayanan dan rehabilitasi. Keberadaan lembaga yang dimaksud nampak sangat dibutuhkan dalam pelayanan dan rehabilitasi kesejahteraan sosial bagi perempuan/wanita terutama bagi perempuan/wanita yang kurang mendapatkan akses dalam memenuhi kebutuhan dasar atau mengalami tindak kekerasan. Berkaitan dengan hal tersebut ada pentingnya dipaparkan dalam profil ini.

Profil ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam memberikan pelayanan dan rehabilitasi di Balai Sosial Karya Wanita (BSKW) “Mirah Adi”  yang diharapkan dapat mengembangkan fungsi lebih optimal  dan saling sinergis dalam mengembalikan fungsi sosial kelayan (wanita/perempuan), di Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Demikian semoga dapat lebih bermakna dalam meningkatkan usaha kesejahteraan sosial perempuan di Nusa Tenggara Barat.

 

Kepala Balai Sosial Karya Wanita (BSKW) “Mirah Adi

ttd

Drs. AMIRUDDIN IDRIS, MH

NIP. 19621117 199102 1 003