Fitri Nugrahaningrum, Tunanetra dengan Gelar Magister

PEREMPUAN dengan jilbab lebar berwarna hijau nampak digandeng pria berkopiah putih. Mereka tengah diminta hadir di ruangan Dinas Sosial Provinsi NTB. Perempuan itu memperkenalkan diri sebagai Fitri Nugrahaningrum, sementara suaminya Ahmad  Zaki. Alasan ia digandeng suaminya karena indra pengelihatannya hilang. Sekilas penampilannya seperti tunanetra pada umumnya. Semua berubah ketika Kepala Dinas Sosial Provinsi NTB H Ahsanul Khalik menyebut ia tunanetra dengan pendidikan tinggi.

“Jangan salah Ibu Fitri ini S2 lho,” katanya menyapa.

Rasa penasaran pun muncul, di NTB jangankan magister untuk sarjana saja belum ada kampus yang membuka ruang bagi tunanetra. Lalu bagaimana perempuan ini bisa meraih magister?Awalnya ia malu-malu, bahkan terlihat sungkan menceritakan perjalannya bisa sampai meraih titel S2. Alasannya enggan bercerita karena tidak ingin dianggap sombong karena gelarnya.

“Sudah ah saya tidak enak,” katanya malu-malu.

Butuh beberapa menit sampai akhirnya Fitri mau membuka cerita perjalananya bisa sampai meraih gelar S2. Ia membuka kisah soal hilangnya penglihatan. Matanya tidak buta sejak lahir. Kebutaan dialami mulai usia 12 tahun atau saat kelas VI sekolah dasar. Perlahan sampai akhirnya penglihatan itu benar-benar hilang saat kelas dua SMA. Di laboratorium sekolah sudah tidak bisa membedakan warna atom.

“Saat itu ibu sedih. Paling sedih bapak sampai semua foto disimpan, televisi tidak boleh dinyalakan,” ceritanya.

“Bahkan bapak sampai nangis setiap lihat pelangi,” sambungnya.

Kesedihan orang tua, kata Fitri, yang membuatnya tidak patah arang. Ia ingin menjadi orang yang berguna. Orang tua harus bahagia dengan kebutaan yang dialami. Secercah harapan pernah hadir, kebutaan bisa sembuh dengan jalan Fitri harus dibawa ke Jerman. Sayang, Fitri enggan mengambil jalan itu, alasannya harus dibawa ke luar negeri.

“Begitu lulus SMA saya pun ikut tes UMPTN di IAIN Yogyakarta dan UNS (Universitas Sebelas Maret), dua-duanya saya lulus. Di Yogya di pengembangan masyarakat islam, di UNS lulus di pendidikan luar biasa,” beber perempuan kelahiran Tanjung Karang, Lampung ini.

Pilihan jatuh ke Jurusan PLB di UNS. Perjuangan sebagai tunanetra, kata Fitri, cukup terasa. Saat itu di UNS akses bagi penyandang disabilitas belum baik. Seperti contoh tangga kampus yang curam. Di 1999 UNS memang belum menerima mahasiswa dari kalangan dengan panca indra terbatas. Seperti kampus lainnya UNS menerima mahasiswa umum.

“Dosen juga belum ada yang bisa translate (terjemahkan) ke huruf braille. Saat itu masih menggunakan mesin ketik biasa, belum ada komputer,” tambah perempuan kelahiran 18 Juni 1979 ini.

Beruntung saat kuliah, sambung Fitri, rekan mahasiswa di UNS memberi dukungan. Mahasiswa di kampus setempat banyak membantunya baik dalam soal memberi informasi kuliah maupun materi kuliah. Keseriusan Fitri berbuah manis, ia pun mendapat Beasiswa Supersemar saat kuliah. Indeks Prestasi (IP) tiap semester diatas 3 membuatnya dianggap oleh kampus layak diganjar beasiswa.

“Berat memang, tapi saya maju terus. Waktu itu ada tiga tunanetra yang masuk bersamaan dengan saya tapi dua orang drop out (DO) saat semester IV, bahkan saya pun nyaris kena DO karena menuntut aksebilitas bagi tunanetra,” imbuhnya.

Meski buta, dengan kesungguhannya Fitri bisa membuktikan diri. Kuliah yang ditempuhnya tuntas 3,5 tahun, sama dengan mahasiswa pada umumnya. Lulusan SMA 5 Surakarta ini pun memutuskan untuk mengambil Magister Pengembangan Masyarakat ke UNS. Saat S2 pola belajar yang digunakan dengan rekaman. Setiap dosen menjelaskan, langsung direkam.

“S2 ini lebih susah karena harus menterjemahkan bahasa Inggris. Satu angkatan ini banyak yang tidak bisa bahasa Inggris,” ungkapnya sembari tertawa.

Fitri menyebut, saat ini tunanetra bisa lebih terbantu dengan adanya handphone android. Untuk penyampaian informasi bagi tunanetra bisa lebih cepat. Hanya saja, bagi tunanetra tetap paling utama adalah mengenal huruf braille. Biasanya penyandang tunanetra yang sudah asyik dengan audio books atau android, menjadi malas membaca braille. Seperti Alquran kalau hanya mendengar bisa kurang, termasuk juga mendengar bahasa Inggris.

“Sekarang ini disini kalau magister baru saya, untuk yang sarjana ada tiga,” tutup perempuan 37 tahun ini.

sumber berita Lombok Post online.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *