Mitigasi Bencana, Belajar Dari Kearifan Tradisi

Berbagai bencana besar dan bencana-bencana lainnya dalam skala kecil, telah membuat masyarakat secara tradisional belajar banyak bagaimana beradaptasi atau setidaknya mengurangi dampak resikonya melakui sistem dan kearifan budaya yang terbangun setelah melalui serangkaian proses dan dinamika berhadapan dengan alam kehidupan yang melingkupinya. Misalnya dengan melahirkan bangunan bercorak kan arsitektur dengan konstruksi tahan gempa (vernakular). Umumnya nenek moyang kita juga membangun lumbung-lumbung pangan yang memiliki fungsi sebagai cadangan pada masa-masa darurat. Ada sistim iuran melalui pengumpulan kolektif hasil panen padi yang disimpan di lumbung (Lombok) atau Uma Lengge/Jeumpa (Bima/Sumbawa). Lumbung dan Uma Lengge tersebut memiliki fungsi sebagai gudang penyimpanan logistik yang pengeluqrannya diatur secara berkala seperti pesta desa atau lumbung khusus yang dipergunakan pada saat ketika terjadi bencana.

Rumah Lumbung Lombok
Uma Lengge Bima

Begitu pula dengan pola-pola perkampungan, umumnya kampung-kampung kuno berada dalam wikayah yang jauh dari patahan atau sumber bencana, mempertimbabgkan aspek air dan memiliki zona mitigasi yang nudah dijangkau. Potret ini bisa dilihat ketika terjadi bencana gempa bumi tahun 2018 pada kampung-kampung tradisional yang ada di Gumantar Lombok Utara atau Kampung Adat di Biluq Petung Sembalun Lombok Timur, yang relatif aman dan selamat dari kerusakan serta tidak ada korban yang berarti.

Selain hal-hal fisik tersebut, hampir semua pengetahuan lokal (local knowledge) senantiasa mengacu pada aspek kebencanaan. Hal tersebut bisa kita lihat dalam berbagai ritus atau upacara adat yang diselenggarakan masyarakat. Semisal Ritus Ngayu-ayu yang diselenggarakan oleh masyarakat Adat Sembah Ulun (Sembalun), yang biasanya diadakan dalam empat tahunan adalah merupakan sebentuk kegiatan untuk merawat atau melestarikan mata air di sekitar Gunung Rinjani.

Ritus Ngayu-ayu di Sembalun

Ritus-ritus serupa juga banyak kita jumpai dalam kehidupan sosial budaya masyarakat lainnya, seperti Perang Topat atau perang mengusir bala yang diselenggarakan secara tahunan di Pura dan kemalik Lingsar Lombok Barat. Hampir semua kegiatan adat dan tradisi tersebut memiliki tujuan untuk menyelaraskan antara kegiatan manusia dengan alam lingkungan.
Banyak pertanyaan yang muncul ketika terjadi Gempa Lombok 2018, pertanyaan nya adalah, kenapa Gempa Lombok banyak memakan Korban? Apakah masyarakat tidak belajar dari kearifan budaya yang dimiliki tersebut?


Sayangnya memang, seiring dengan perubahan waktu, banyak kearifan lokal yang akhirnya tergeser dan tergerus oleh budaya baru yang tidak memiliki akar dan bukan kebiasaan yang sudah lama berkembanh di masyarakat, banyak bermunculan bangunan-bangunan dengan arsitekrur dan konstruksi baru yang dipercaya menabrak hal-hal yang tabu dalam adat dan bahkan dalam hal tata letaknya.


Secara arsitektural, bahyak orang yang mengganti bangunan rumah mereka yang semula menggunakan bahan dasar kayu menjadi tembok batu pasir (Batako), selain karena memang material kayu sulit didapatkan, juga perawatannya lebih sulit, dan juga dianggap kurang mengikuti perkembangan zaman. Lebih sayanh lagi kualitas konstruksi bangunan batu pasir tersebut rata-rata sangat buruk serta mengabaikan tata letak atau keberdaaan bangunan pada zona tidak aman (patahan dll), cenderung tidak ramah lingkungan dan jauh dari atau sama sekali tidak memiliki shelter untuk kegiatan mitigatif.

Dalam konteks kekinian, maka belajar dari kearifan tradisi yang pernah ada dan hidup di masyarakat sangatlah penting untuk dijadikan sebagai salah satu bagian penting dalam mitigasi bencana, di mana perpaduan antara kearifan tradisi dengan perkembangan zaman harus dapat diformulasikan dengan baik dalam menghadapu berbagai kemungkinan bencana yang bisa datang sewaktu-waktu.

Tim PPID Dinsos Provinsi NTB

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *