Wagub NTB Buka Seminar Sosial Korban Tindak Kekerasan

MATARAM, SEPUTAR NTB – Sebagai rangkaian kegiatan hari kesetiakawanan sosial nasional, Direktorat Rehabilitasi Sosial Tuna Sosial Korban Perdagangan Orang Kementerian Sosial RI melalui Dinas Sosial Kependudukan dan Catatan Sipil Provinsi Nusa Tenggara Barat menggelar seminar perlindungan sosial korban tindak kekerasan.

Acara berlangsung di Mataram pada Rabu (19/10/2016). Hadir dalam acara 125 orang terdiri dari perwakilan pemerintah provinsi, kabupaten/kota, tokoh agama tokoh masyarakat dan organisasi.

Wakil Gubernur NTB, H. Muh. Amin yang membuka acara sempat mengungkap, seringnya tindak kekerasan menimpa kaum perempuan dan anak-anak. Menurutnya, kasus tersebut terjadi karena masih adanya ketimpangan gender di tengah masyarakat. “Pemahaman tentang kesetaraan gender ini yang harus diluruskan. Ketimpangan gender harus dikikis. Dalam fungsi sosial, posisi perempuan dan laki-laki adalah sejajar, seharusnya saling melengkapi. Namun, kaum perempuan masih saja menjadi korban diskriminasi dan eksploitasi.“Seperti korban perdagangan manusia,” paparnya.

Padahal, melihat perjuangan dan perannya, wanita sepatutnya dimuliakan, terlebih dalam agama, “surga itu berada dibawah telapak kaki ibu”, terang wagub.

Untuk itu melalui kegiatan ini wagub menghimbau agar berbagai elemen masyarakat turut terlibat aktif untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya mencegah tindak kekerasan maupun upaya yang harus dilakukan dalam menangani korban kekerasan terhadap wanita dan anak. “Aktifkan kembali peran lembaga dan organisasi keagaaman seperti forum remaja masjid, serta berbagai organisasi lintas sektor lainnya, sebagai upaya preventif terhadap tindak kekerasan. Mencegah jauh lebih baik daripada mengobati,” kata Wagub.

Kadis Sosial Dukcapil Prov. NTB, H. Ahsanul Khaliq, S.Sos menjelaskan, kegiatan ini diaksanakan dalam rangka mensinergikan kebijakan pemerintah provinsi dengan stakeholder di kab/kota serta organisasi sosial di NTB, agar tahu bagaimana dan cara apa yang harus diambil untuk menangani korban tindak kekerasan. Disamping itu, diharapkan melalui kegiatan ini dapat memberi pemahaman kepada masyarakat, untuk bisa lebih membuka diri atas masalah yang dialami dalam rumah tangga, khususnya bagi anak, perempuan dan pekerja migran di NTB. (Amr/hms)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *